MULANYA biasa saja, seperti pemanasan olahraga: melakukan pelemasan otot, menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya pelan-pelan. Berikutnya mulai "hot". Lima belas orang kakek dan nenek itu mulai saling tatap. Lalu terdengarlah: ha, ha, ha... hi, hi, hi... ho, ho, ho.... Para lansia berumur 60 sampai 75 tahun itu saling menunjuk gigi ompong teman di depannya.
Kemudian mereka tergelak. Satu-dua orang terlihat canggung. Tawanya tak bisa lepas. Tapi, dengan panduan instruktur, mereka akhirnya bisa terbahak dengan nikmat. Ritual tertawa di Balai Warga Danau Tamblingan, Pejompongan, Jakarta Pusat, itu dilakukan sepekan sekali, tiap Kamis. Berlangsung 30 menit, dimulai pukul 05.30.
Mereka menamakan diri perkumpulan Reda Perkasa. Pembimbingnya adalah Arman Archisaputra, warga setempat. Arman, yang menekuni seluk-beluk pengobatan alternatif sejak 1990, percaya bahwa terapi tawa manjur mengobati berbagai penyakit. Kepada setiap koleganya, ia selalu menyarankan untuk membaca buku Laugh for No Reason karya Dr. Madan Kataria. Disebutkan, antara lain, tawa punya khasiat sama dengan meditasi. Bisa membuat orang rileks dan santai.
Sugianto Wiryodiardjo termasuk salah seorang yang kena "provokasi" Arman. Sebagai sesama manula, empat bulan lalu dia sempat "curhat" mengenai penyakit hipertensi yang kerap kambuh sejak 1985. Setiap kambuh, dadanya terasa sesak. Jantungnya juga sering berdebar. "Bisa sampai 200 kali debar per menit," ujarnya. Dokter yang berpraktek di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, kerap dikunjunginya. Setiap bulan ia dipantau kesehatan jantung dan tekanan darahnya.
Setelah membaca buku karya Dr. Madan Kataria, seperti disarankan Arman, pensiunan Pertamina itu penasaran. Ia pun mulai mengikuti terapi tawa. Hasilnya, menurut Sugianto, lumayan manjur. Penyakit darah tinggi yang diidapnya sudah berkurang. Tekanan darah pria berusia 72 tahun itu semula 160/110 mmHg. Tensinya kini kembali normal, 120/90 mmHg.
Dosis obat yang diberikan dokter pun dikurangi. Sebelumnya, ada delapan
macam obat yang harus ia tenggak dalam sehari. Beberapa di antaranya obat pengencer darah dan pelebar pembuluh darah. "Sejak saya ikut terapi, dosis obat saya berkurang jadi tiga macam," kata ayah tiga anak dan delapan cucu itu, dua pekan lalu. Rasa berdebar di dada pun tak terasa lagi.
Pertama mengikuti terapi tawa, Sugianto mengaku susah melakukannya. Maklum, ia tergolong sulit tertawa kalau sesuatu yang didengar atau dilihatnya tidak menggelikan. Lagi pula, ia tergolong pemalu. Karena dipaksa, lama-kelamaan ia bisa terbahak-bahak. "Kalau sudah tertawa, susah berhentinya," ujar Sugianto.
Pulihnya kesehatan Sugianto membuat Arman ikut senang. Ia puas karena usahanya memopulerkan terapi tawa ada manfaatnya. Di Indonesia, sebenarnya terapi ini bukan barang baru. Seperti dikatakan Arman, Dr. H. Yul Iskandar, Phd, Direktur Rumah Sakit Dharma Graha, Tangerang, menerapkannya sejak 1997. Cuma, belum memasyarakat.
Padahal, seperti ditulis Madan Katarina, klub-klub terapi tawa sudah
menjamur di luar negeri. Tercatat ada 1.200 klub, yang tersebar antara lain di India, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Italia, Swiss, Swedia,
Singapura, dan Malaysia. Akhirnya, pada November 2004, ia mendirikan klub tawa "Seuri... Euy". Setelah launching, anggotanya kini tercatat 50-an orang.
Menurut Arman, terapi humor banyak kegunaannya. Pada saat tertawa, sel-sel saraf manusia akan mengeluarkan peptida opiat, yang merangsang produksi sel-sel limfosit T. Ini berperan membentengi ketahanan tubuh. Dengan tertawa, kadar endorfin meningkat. Endorfin adalah asam amino di dalam tubuh yang bekerja mengurangi rasa sakit alami, seperti akibat radang sendi atau kejang otot.
Arman bilang, tertawa bisa meringankan migren dan sakit kepala. Sebab, pada saat tertawa, orang akan menghirup oksigen lebih banyak, sehingga dapat memperlancar aliran darah di dalam jantung. Oksigen yang banyak juga dapat mengeluarkan udara di paru-paru yang sudah jenuh. "Satu menit tertawa sama dengan 10 menit mengayuh sepeda," katanya.
Terapi tawa, menurut Arman, berbeda dengan tertawa pada umumnya. Pada terapi, orang harus tertawa meski tanpa sebab. Ini akan membuat orang tertawa dengan ikhlas. Tentu saja tidak gampang, karena berkaitan dengan faktor psikologis seseorang. Ada orang yang pemalu atau pendiam. Selain itu, ada yang menganggap bahan lelucon tidak lucu. Nah, ini harus dihilangkan. Pokoknya, dilarang mendiskreditkan orang lain.
Menanggapi hal itu, Budhi Setianto, ahli penyakit jantung pada Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta, mengatakan bahwa tertawa memang bisa mengurangi stres. Ia kerap melihat pasien yang stres. Dari takut dirawat di ruang gawat darurat sampai takut dokter yang galak. "Untuk mengatasinya, dokter memberi obat penenang," katanya.
Nah, dengan tawa, jantung jadi tidak berdebar terlalu kencang. Tertawa bisa membuat saraf simpatis --saraf yang membuat jantung berdenyutâ€â€akan bekerja. Pada awalnya, kerja jantung bertambah keras. Tapi, ketika tawa terus berlanjut, pikiran orang jadi rileks. Saraf parasimpatis ikut bekerja. Kerja jantung pun kembali normal. Saraf parasimpastis berfungsi melambankan denyut jantung.
Tapi ia menekankan bahwa tak semua tawa menyehatkan. Tawa yang keluar seperti dipaksakan justru tidak bagus karena menandakan adanya konflik. "Orang tak ingin tertawa tapi dipaksa ketawa," ujarnya kepada Airin Nisa dari Gatra. Ketawanya tidak membantu.
Ia cenderung menganjurkan agar orang bersikap ikhlas, sabar, dan berbudi luhur. Artinya, pasien bisa menerima segala persoalan, bersyukur, dan berusaha untuk lebih baik. Jika itu terbentuk, jiwanya akan tenang. Kalau sudah begini, senang akan menjelang. "Sikap inilah yang akan saya tularkan pada pasien," katanya.
Copyright C 2005
Gatra.com
So, Ketawa itu sehat.....
Peace.... ^^








